Perlukah Melakukan Defense Mechanism?

Sebagaimana biasanya, membahas sebuah objek atau entitas, selalu lebih mudah dengan didahului memahami artinya. Karena itu, pertanyaan awal tentang defense mechanisme adalah ‘what’. Pertanyaan ini bertugas untuk menuntaskan dua hal dalam proses belajar atau menambah pengetahuan, yaitu term and definition. Dengan pertanyaan ini, kita tahu apa itu defense mechanism.

Secara teoritis, orang-orang yang telah belajar tentang Psikoanalisa Sigmund Freud akan mendefinisikan defense mechanism sebagai strategi yang dipakai individu untuk melawan ekspresi impuls id serta menentang tekanan superego. Ah, teori terlalu rumit untuk kehidupan yang serba real ini. Secara sederhana, kita bisa menyebut defense mechanisme sebagai mekanisme otomatis untuk mempertahankan diri tetap seimbang. Dengan kata lain, defense mechanisme adalah penyeimbangan. Disebut otomatis karena biasanya bekerja di bawah kesadaran. Artinya, defense mechanisme menjadi keniscayaan, bagian dari diri kita.

Namun poin dari tulisan ini membahas tentang perlu atau tidaknya. Jika kita baca lagi definisinya, mekanisme ini berasa ngat melelahkan. Apalagi Freud melihat dari sudut pandang yang terlampau pesimistik. Meskipun Ana Freud melihatnya dengan lebih positif, defense mechanisme sebagai mekanisme alamiah untuk penyeimbang, sehingga kehidupan terus berjalan, namun jika kita baca lagi definisinya, pfiuh, tetap melelahkan bukan?

Bagaimana defense mechanisme bisa begitu melelahkan? Tentu saja tidak bisa hanya dari membaca definisinya, bukan? Defense mechanism adalah mekanisme perlindungan yang dilakukan oleh ego. Ego membungkus realita id dan superego menjadi kemasan yang tetap menyenangkan (pleasure principle).

Membungkusnya saja sudah butuh banyak energi. Tentu kita tahu 7 mekanisme pertahanan yang dijelaskan oleh Freud, yaitu identification, displacement, repression, fixation, regression, reaction formation, dan projection. Untuk masing-masing pengertiannya, boleh dibaca di sini. Karena artikel ini memang tidak sedang membahas definisi, konsep, komponen dan tetek bengek yang berhubungan dengan defense mechanism. Hal-hal seperti itu bisa dibaca di banyak buku dan artikel. Kali ini hanya akan dibahas tentang perlu atau tidaknya.

Nah, kalau defense mechanism adalah mekanisme alamiah, kenapa masih harus ditanyakan perlu atau tidaknya? Bukankah keniscayaan itu tak bisa dipungkiri. Benar sekali, keniscayaan itu pasti selalu ada. Namun sebagai keniscayaan, seperti halnya realita yang lain, keberadaannya bisa dipilih atau tidak. Pada diri kita ada mekanisme pertahanan diri, namun secara bersamaan juga ada mekanisme tak bertahan. Apa itu?

Biar lebih keren, aku menyebutnya surrender mechanism. Arti penyerahan di sini bukan sesuatu yang fatalistik, tetapi penyerahan pada kodrat yang alamiah diri kita. Bagaimana kodrat diri kita yang alamiah? Kita diciptakan dalam kondisi terbaik dan selalu tersedia jalan bagi kita untuk mengarah kepada kebaikan. Setidaknya seperti itulah kaum humanistik berkata. Hem, berarti ini sedang membicarakan sudut pandang yang berbeda ya, antara psikoanalisa dan humanistik? Betul seratus persen!

Misalnya saja, pertama kita sedang berbicara tentang fisik. Bolehlah menggunakan quote yang sering aku bicarakan dan beberpaa kali pernah aku tweet via @rudicahyo “Orang yang sehat adalah yang menerima sakit apa adanya”.

Jika diri kita melawan penyakit, maka pada saat yang bersamaan, penyakit akan menguat. Kita tidak sedang membiacarakan mekanisme alamiah antibodi. Kita membicarakan tentang upaya yang dilakukan oleh ‘diri’. Namun coba jika kita merasakan setiap sensasi yang terjadi pada tubuh kita, baik rasa sakit maupun berbagai nikmat di sisi tubuh yang lain, maka kita sedang menerima sakit apa adanya, seperti halnya menerima nikmat juga. Saat itu, kita sedang mempercayakan penyembuhan pada mekanisme alamiah tubuh. Saat kita berserah, tubuh membuka diri bagi masuknya energi.

Mekanisme yang sama juga terjadi ketika kita mengalami peristiwa yang sangat emosional. Kamu pernah dengan “Letting go, letting come”? Kehilangan seseorang, terlanjur melakukan kesalahan, atau ketidakmampuan, bisa kita hadapi dengan prinsip tersebut. Jika kita mengatakan, “Aku rela demi kebahagiaanmu”, apakah kita benar-benar rela? Jika tidak, bukankah akan lebih baik jika kita berkata, “Aku tidak rela Kamu menjadi miliknya”, dengan bernafas lega dan menutup kasusnya?. Namun jika kata-kata “Aku rela demi kebahagiaanmu” memang benar-benar rela, maka kita sudah masuk kepada surrender mechanism. Nikmati sensasinya.

Baik defense mechanism maupun surrender mechanism, sama-sama tak tampak oleh mata. Keduanya hanya bisa dirasakan oleh diri sendiri, meskipun banyak orang tidak menyadari. Kita cuma perlu lebih sadar dan merasakan tiap detil prosesnya. Karena dengan begitu, kita bisa merasa bahagia.

defense mechanism
Perlukah kita melakukan defense mechanism? (foto: ponderosatcchs.wikispaces.com)

Demikian pembahasan tentang, “Perlukah Melakukan Defense Mechanism?”. Semoga bermanfaat.

Jika ada yang perlu didiskusikan, silahkan add facebook di https://www.facebook.com/cahyonorudi atau follow twitter @rudicahyo. Kamu juga bisa berkunjung ke rudicahyo.com untuk mendapatkan artikel tentang psikologi, creative learning design, parenting, dan belajar menulis serta blogging.