Obsesif Sumber Kecemasan

Sempurna itu baik. Tapi kesempurnaan tidak memiliki ukuran. Karena itulah, kesempurnaan dapat menimbulkan obsesif, dan obsesif menjadi sumber kecemasan.

Siapa yang tak ingin sempurna. Kesempurnaan menjadi dambaan setiap orang. Ingin memiliki pasangan ideal, kekayaan berlimpah, pekerjaan yang mapan, rumah megah, kebutuhan serba berkelimpahan, dan sebagainya. Itu adalah indikator-indikator kesempurnaan yang umum diinginkan oleh orang.

Namun setiap indikator kesempurnaan tersebut tidak memiliki ukuran. Setiap apa yang kita kerjaan dikategorikan gagal atau berhasil atas dasar satu hal, sesuai atau tidak sesuai dengan target yang sudah ditetapkan. Ini jelas memiliki ukuran, yaitu target atau tujuan yang sudah ditetapkan. Akan tetapi sangat berbeda dengan kesempurnaan. Sempurna itu tak pernah menemui lantai untuk berpijak atau langit-langit untuk batas yang menyentuh kepala. Kesempurnaan itu tak terbatas.

Karena sempurna itu tak memiliki ukuran dan tak terbatas, maka kebanyakan orang yang mengejar kesempurnaan akan selalu kurang. Ketika perasaan selalu kuran terus menghantui, maka kita akan menjadi obsesif. Jika dilakukan terus menerus, obsesif akan menjadi patologi, abnormalitas. Jika obsesi dilihat dari kekurangan, maka akan menimbulkan kecemasan. Jika obsesif didasari atas keinginan untuk lebih, maka keserakahan dan selalu kurang akan jadi efek sampingnya. Dan keduanya, dapat menimbulkan perilaku kita menjadi kompulsif.

Tentunya, obsesif akan membuat hidup tidak tentram. Orang obsesif akan dipenuhi dengan satu perasaan, yaitu cemas yang over antisipatif. Selain itu, kita dapat menyusahkan orang lain, karena kita menetapkan segala hal atas kesempurnaan yang selalu kurang dan kurang. Akibatnya, jika kita bekerja bersama orang lain, kita akan banyak menuntut dan mencela. Apakah kita ingin seperti itu?

Kesempurnaan hanya milik Tuhan. Sekali lagi, kita hanya bisa mengukur capaian dari tujuan yang sudah ditetapkan, bukan atas kesempurnaan yang tak terbatas. Artikel ini saya tutup dengan satu quote, “bersyukur adalah cara untuk melihat apa yang kita miliki menjadi sempurna” (@rudicahyo).

obsesif
Hasrat untuk sempurna menimbulkan obsesif, dan obsesif memicu kecemasan (foto: drugdiscovery.com)

Jika ingin berdiskusi lebih lanjut dengan saya, silahkan follow twitter saya @rudicahyo dan official twitter Departemen Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, @PPP_PsiUnair. Atau add fb  https://www.facebook.com/cahyonorudi